Jumat, 14 Desember 2012

pemeliharaan ikan lele (Clarias batrachus)

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Biologi dan Klasifikasi
           Menurut Weber dan De Beaufort klasifikasi ikan lele dari hasil taksonominya pada tahun 1965 adalah sebagi berikut :
Kelas                                :Pisces
Sub kelas                                    :Telestoi
Species (jenis)                : Clarias Batrachus
Genus (marga)               : Clarias
Famili (suku)                   : Claridae.
Sub ordo (kelompok)     : Siluroidae
Ordo (bangsa)                : Ostariophysi
Filum (chordata)             : binatang bertulang belakang
           Di dalam buku Freshwater  Fishes of  Westren Indonesia and Sulawesi (Kottelat, et.all,1993 dikutip oleh Gufron, 2010) disebutkan beberapa spesies ikan lele, yaitu Clarias batracus, C. leiacanthus, C. maladerma, C. nieuhofi, C. teijsmani, dan C. grapienus. Spesies C. gariepinus  atau yang lebih dikenal sebagai lele dumbo, merupakan ikan introduksi, semestara yang lainnya merupakan spesies asli (indigenous spesies) di perairan Indonesia.
           Bentuk badan ikan lele memanjang. Tengah badannya mempunyai potongan membulat dengan kepala pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih ke samping (compressed). Dengan demikian pada lele ditemukan tiga bentuk potongan melintang, yaitu pipih ke bawah, bulat, dan pipih ke samping.
           Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang. Di sinilah terdapat alat pernafasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat. Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi empat sungut (kumis). Lubang hidung yang depan merupakan tabung pendek yang berada di belakang bibir atas: lubang hidung sebelah belakang merupakan celah yang kurang lebih bundar, berada di belakang sungut nasal. Mata berbentuk kecil dengan tepi orbital yang bebas.
            Sirip ekor ikan lele membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung maupun sirip anal. Sirip perut membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. sirip dada pada lele lokal (C. batrachus) dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil atau taji. Patil ini beracun, Terutama pada ikan-ikan remaja. Ikan yang sudah tua agak berkurang kadar ,racunnya. Selain untuk membela diri dari ancaman luar yang menggangu,patil ini juga digunakan lele lokal untuk melompat keluar dari air dan melarikan diri. Dengan menggunakan patil ini, lele lokal dapat “berjalan” di darat tanpa air cukup lama dan jauh. Lele dumbo dan lele keli, patilnya pendek, tidak tajam dan tidak beracun sehingga tidak melukai tangan, tidak digunakan untuk membuat lubang dan tidak merusak pematang kolam.
          Lele merupakan ikan yang berukuran sedang sampai besar. Lele dumbo merupakan lele berukuran besar yang dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari 15 kg/ ekor dengan panjang hingga 1 meter. Sedangkan lele local, walaupun dapat tumbuh hingga 62 cm, pertumbuhannya sangat lambat.
          Habitat ikan lele adalah semua perairan tawar. Sungai yang airnya tidak deras, dan perairan yang tenang seperti danau, waduk, rawa-rawa serta genangan air lainnya. Seperti kolam dan air comberan, merupakan lingkungan hidup ikan lele.
            Di sungai, ikan ini lebih banyak dijumpai di tempat-tempat yang aliran airnya tidak deras. Pada kelokan aliran sungai yang arusnya lambat ikan lele seringkali tertangkap. Ikan ini tidak menyukai tempat yang tertutup rapat bagian atasnya oleh tanaman air, tetapi lebih menyukai tempat yang terbuka. Ini berhubungan dengan sifatnya yang sewaktu-waktu suka mengambil oksigen langsung dari udara.
           Lele mempunyai alat pernafasan tambahan yang disebut arborescent organ, yaitu membran yang berllipat-lipat penuh dengan kapiler darah, yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga, berbentuk mirip pohon atau bunga bunga. Karena itu lele dapat mengambil oksigen langsung dari udara, yang untuk itu lele akan menyembul kepermukaan air. Lele relatif tahan terhadap pencemaran bahan-bahan organik sehingga tahan hidup di comberan yang airnya kotor dan tergenang.
          Lele hidup dengan baik di daratan rendah sampai pada ketinggian 600 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan suhu 25-30 . Pada ketinggian di atas 700 m dpl pertumbuhan ikan lele kurang baik. Lele tidak cocok hidup di air payau atau asin, walaupun sering berenang hingga ke bagian air yang agak payau.
         Lele termasuk hewan malam (nocturnal) dan menyukai tempat yang gelap. Aktif bergerak mencari makan pada malam hari dan memillih berdiam diri, bersembunyi di tempat terlindung pada siang hari. Sesekali ikan ini muncul di permukaan untuk menghirup oksigen langsung dari udara.
         Lele adalah pemakan hewan atau bangkai (carnivorous-scavanger). Makanannya berupa binatang-binatang renik seperti kutu air (Dapnhia, Cladocera, Copepoda), cacing larva (jentik-jentik serangga), siput kecil dan sebagainya. Lele juga memakan makanan yang membusuk, seperti bangkai hewan dan kotoran manusia
         Ikan ini biasanya mencari makanan di dasar perairan, tetapi bila ada makanan yang terapung maka lele juga dengan cepat menyambarnya. Dalam mencari makanan, lele tidak mengalami kesulitan karena mempunyai alat peraba (sungut) yang sangat peka terhadap keberadaan makanan. Baik di dasar perairan, di pertengahan, maupun di permukaan.
          Lele dikenal sebagai ikan rakus dalam hal makan. Karena itu walau dikenal sebagai pemakan hewan (karnivora), tetapi juga makan apa saja yang diperolehnya, termasuk sisa-sisa dapur seperti nasi dan dedak yang dibuang ke kolam.  Meski begitu sifatnya sebagai ikan pemakan hewan atau karnivora tetap melekat pada dirinya. Ini terbukti, bila dalam pemeliharaanya diberikan pakan yang mengandung protein nabati maka pertumbuhannya akan lambat. Pertumbuhan lele dapat dipacu dengan memberikan pellet yang mengandung protein menimal 25 %. Juga diberikan pakan tambahan berupa bangkai hewan, bangkai itik, ikan rucah, daging bekicot, siput air, dan sebagainya.
          Di alam, lele memijah pada musim penghujan. Jika sudah matang gonad, ikan  jantan dan betina berpasangan dalam memijah. Pasangan ini lalu mencari lokasi yang teduh dan aman untuk membuat  sarang. Lubang sarang yang dibuat ikan lele kira-kira 20-30 cm di permukaan air. Lele tidak membuat sarang dari suatu bahan (jerami atau rumput-rumputan) seperti ikan gurami, melainkan hanya menggali lubang beriameter sekitar 25 cm, telurnya diletakkan di atas dasar lubang sarang tersebut.
          Pada perkawinannya, induk betina melepaskan telur bersamaan waktunya dengan jantan melepaskan spermanya di dalam air. Pembuahan antara telur dan sperma terjadi di dalam air. Telur yang telah dibuahi dijaga oleh induk betina sampai telur menetas hingga anak-anak lele cukup kuat berenang. Lama penjagaan ini antara 7-10 hari.
          Biasanya lele memijah pada sore hari hingga malam hari dimusim hujan. Namun lele dipelihara di kolam dapat memijah sepanjang tahun asalkan diberi pakan yang sesuai secara cukup serta kondisi yang optimum. Pemijahan lele dapat dilakukan secara alami maupun buatan, atau kawin suntik (hipofisa). Ikan yang dipijahkan harus dipilih yang telah mencapai bobot 300 g untuk ikan betina dan 200 g untuk jantan pada jenis lele keli, 150 g untuk induk jantan dan 200 g untuk induk betina pada lele lokal. Sedangkan lele dumbo dipilih yang telah berbobot 500 g untuk induk betina dan 400 g untuk induk jantan.

B.   Rumusan Masalah
1.    Bagaimana cara memelihara ikan dengan menggunakan kolam terpal.
2.    Factor-faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan pembudidayaan di kolam terpal.
3.    Bagaimana cara melakukan pemanenan dan perlakuan pada saat pasca panen.

C.   Tujuan
1.    Untuk memberikan referensi bagi mahasiswa tentang cara budidaya ikan yang praktis.
2.    Menambah wawasan mahasiswa tentang budidaya ikan.






















BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pemeliharaan Ikan Lele Di Kolam Terpal
          Salah satu sistem budidaya intensif pada akuakultur air tawar adalah sistem budi daya kolam terpal. Sistem budidaya ikan di kolam  terpal merupakan salah satu inovasi baru dalam pengembangan budidaya ikan. sistem budi daya kolam terpal pertama kali dikembangkan oleh bapak Mujarob, seorang petani di bekasi, jawa barat, pada tahun 1999, dengan membudidaya ikan lele. Saat ini kolam terpal telah digunakan untuk budi daya segala jenis ikan, seperti lele, gurami, nila, patin, bawal air tawar, dan sebagainya.
           Budi daya ikan kolam terpal memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a.       Dapat diterapkan dilahan bebas.
b.      Dapat diterapkan di lahan atau tanah yang porous, tanah yang menyerap air, atau tanah berpasir.
c.       Dapat diterapkan di daerah sulit air.
d.      Pembuatannya praktis.
e.       Waktu produksi yang lebih singkat.
f.       Ikan-ikan yang dibudidayakan di kolam terpal tidak berbau lumpur.
g.      Sintasan atau kelangsungan hidup (survival rate) ikan yang dippelihara di kolam terpal lebih tinggi, yang dapat mencapai 90-95 %.
h.      Padat penebaran lebih tinggi.
i.        Pertumbuhan ikan lebih cepat.
j.        Biaya pertumbuhan kolam terpal lebih murah
          Berbagai  keunggulan kolam terpal ini merupakan suatu peluang  yang baik bagi pengembangan budi daya ikan. kolam terpal dapat diterapkan untuk kegiatan pembenihan, pendederan, hingga pembesaran untuk menghasilkan ikan konsumsi dan indukan.

B.   Lokasi Untuk Kolam Terpal
     Telah disebutkan bahwa kolam terpal merupakan salah satu alternatif teknologi budidaya ikan yang dapat diterapkan pada lahan sempit, minim air, ataupun pada lahan yang tanahnya porous, terutama tanah berpasir. Kolam terpal dapat menjadi solusi untuk pengembangan budidaya ikan di lahan kritis.
      Kolam tepal berbeda dengan kolam konvensional, seperti kolam air mengalir dan kolam air deras yang pembangunannya harus dilakukan di lokasi yang memiliki sumber air dengan kuantitas dan kualitas yang ideal. Pada budidaya ikan di kolam terpal, kuantitas dan kualitas air, sekalipun tetap merupakan faktor penting, hal itu tidak menjadi faktor pembatas.
      Sumber air untuk kolam terpal tidak harus berupa sumber air utama yang dikenal dalam sistem budidaya konvensional seperti danau, waduk, sungai, rawa-rawa, dan saluran irigasi. Kolam  terpal bisa dengan air sumur, air dari PAM (Perusahaan Air Minum), air hujan yang telah ditampung ataupun air limbah yang telah di treatment. Namun demikian pemanfaatan lahan sempit atau kritis untuk pembangunan kolam terpal perlu mempertimbangkan faktor teknis maupun faktor sosial.

a.    Pertimbangan Teknis
      Kolam terpal dapat dibangun di berbagai tempat, termasuk di halaman rumah, bekas garasi mobil atau bekas gudang. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membangun kolam terpal antara lain sebagai berikut :
a.       Sumber air untuk mengisi kolam seperti sumur, air PAM, tempat penampungan air hujan, dan sumber-sumber lain yang layak digunakan.
b.      Ketinggian lokasi untuk pembangunan kolam terpal perlu diperhatikan karena terkait dengan  suhu air.
c.       Ukuran ikan yang terkait dengan kedalaman air dalam kolam, misalnya benih gurami yang cocok dipelihara pada kedalaman 20-40 cm. untuk menampung air dengan kedalam 40 cm, dapat dibuat kolam dengan kedalaman 60 cm.
d.      Dasar kolam untuk peletakan kolam terpal harus rata.
e.       Untuk kolam yang dibangun di pemukiman penduduk harus dipertimbangkan pengelolaan air limbahnya.



b.    Pertimbangan Sosial Ekonomi
          Pengembangan budidaya ikan di kolam terpal juga perlu mempertimbangkan faktor sosial-ekonomi, diantaranya..
a.    Lokasi yang dipilih untuk pemeliharaan ikan dengan kolam terpal bukanlah lahan sengketa.
b.    Dekat dengan daerah pengembangan budidaya ikan sehingga mudah untuk memperoleh induk ataupun benih.
c.    Tersedia sarana dan prasarana transportasi yang memadai untuk pengadaan alat dan bahan maupun trasnportasi benih hasil panen, dan lain-lain.
d.    Adanya alat dan bahan di sekitar lokasi, atau pengadaanya mudah.
e.    Pasar cukup terbuka untuk menampung produksi, baik pasar lokal maupun ekspor, serta harga yang cukup memadai.
f.     Lokasi cukup aman dari ganguan hewan liar maupun manusia (pencurian). Harus ada cara efektif untuk mengatasi ganguan tersebut.
g.    Adanya sumber energi listrik untuk penerapan dan kebutuhan lainnya. Mis mengoprasikan pompa air dan aerator.
h.    Adanya dukungan dari pihak-pihak terkait, misalnya permodalan dan yang lain. Untuk petani ikan kecil, dukungan juga dapat berupa penyuluhan dan pemasaran hasil.




C.   Membuat Kolam Terpal
               Sesuai dengan namanya, kolam terpal  adalah kolam yang keseluruhan bentuknya, dari  bagian dasarnya hingga dindingnya menggunakan bahan utama berupa terpal. Selain dapat berbentuk seperti kolam tanah atau kolam tembok, kolam terpal juga bisa berbentuk bak dengan sokongan kerangka bambo, kayu, atau besi.
1.  Jenis kolam terpal
a.    Kolam terpal di atas permukaan tanah
b.    Kolam terpal di bawah permukaan tanah
2.  Bahan dan Alat untuk membuat kolam terpal
a.    Plastik terpal
b.    Kayu/ bambu/ pipa
c.    Papan/ seng/ asbes
d.    Pipa paralon
e.    Paku/kawat/tali
f.     Alat kerja

D.   Benih dan Pengadaan Benih
                   Pertumbuhan ikan budidaya dapat dipacu dengan penggunaan  benih berkualitas. Benih berkualitas hanya dapat diperoleh dari hatchery yang menerapkan sistem pembenihan yang menerapkan sistem pembenihan yang baik. untuk memperoleh benih berkualiitas, beberapa kriteria yang dapat digunakan antara lain sebagi berikut :
1.  Benih berkualitas
a.    Hatchery atau pembenihan terpercaya
b.    Sehat  dan tidak cacat
c.    Seragam
d.    Respon terhadap pemberian pakan
e.    Bebas dari organisme penyakit
f.     Sesuai dengan standar
2.    Pengangkutan benih
          Umunya benih yang digunakan untuk kegiatan pembesaran adalah benih yang berukuran 3-5 cm, 5-8 cm dan 8-12 cm. Benih-benih tersebut diangkut ke lokasi pemeliharaan untuk ditebar. Pengangkutan benih ke lokasi pemeliharaan dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup.
          Pengangkutan benih sistem terbuka umumnya dilakukan untuk mengangkut ikan dalam jarak dekat dan memerlukan waktu yang relatif tidak lama. Sebagai alat pengangkut dapat digunakan ember, baskom, atau keramba pikulan. 
          Sedangkan pengangkutan benih sistem tertutup  umumnya diterapkan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam. Biasannya sistem pengangkutan benih ini dilakukan dengan menggunakan mobil, kereta, kapal laut, atau pesawat terbang.
         Wadah yang digunakan adalah kantong plastik untuk jarak dekat, kantong plastik tidak perlu diisi gas oksigen. Ukuran kantong plastik berbeda-beda menurut banyaknya benih dan jarak yang akan ditempuh.Tebal plastik sebaiknya antara 0,004-0,005. Bahan untuk kantong plastik dapat berupa plastik rangkap gulungan dengan lebar 50 cm.

E.   Pendederan Ikan Lele
                  Benih yang dihasilkan dari kegiatan pendederan umumnya mencapai ukuran 5-8 cm dan 8-12 cm. Benih ukuran tersebut sudah cukup kuat untuk dipelihara di perairan yang agak dalam. Untuk menghasilkan ukuran tersebut perlu dilakukan pemeliharaan yang biasa disebut pendederan. Pendederan dilakukan 1-2 bulan.
          Pendederan lele di kolam terpal sebaiknya dimulai dari benih berumur  hari atau yang telah mencapai ukuran 0,7-1 cm. Benih umur  hari sudah dapat diadaptasi dengan pakan buatan. Benih ditebar dengan kepadatan 20-30 ekor/liter air. Bila benih telah mencapai ukuran 3-5 cm, padat penebarannya antara 1.000- 1.500 ekor/m2. Untuk mencapai ukuran 8-12 cm, benih ukuran 3-5 cm dipelihara 2 bulan. Kedalaman air kolam antara 30-40 cm. Selama pemeliharaan, benih ukuran 0,7-1 cm diberi pakan berupa kutu air dan cacing sutra sebanyak 3-5 kali sehari. Pakan alami tersebut diberikan hingga benih mencapai umur 14 hari dan pada hari ke-15 sampai 30 hari benih sudah dapat diberi pellet yang agak kasar. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 10-20 % dari total berat badan ikan. Bila benih telah mencapai ukuran 3-5 cm maka jumlah pakan yang diberikan diturunkan menjadi 5-10 % total berat badan ikan.
                Pakan untuk benih lele sebaiknya mengandung protein minimal 25%. Ini karena benih lele membutuhkan protein yang banyak untuk tumbuh. Di alam, benih memakan berbagai plankton yang terdiri dari hewan dan tumbuhan yang mengandung protein.
           Untuk mencegah benih lele terserang penyakit, sebaiknya benih diberi vitamin C dosis 250-500 mg/kg berat tubuh selama beberapa hari sebagai imunostimulan atau diberikan lipopolisakarida 10 mg/l untuk mempertahankan stamina benih.
          Kolam juga harus dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sarang penyakit. Sisa pakan atau kotoran ikan di dasar kolam terpal secara rutin dibersihkan dengan penyifonan tiap 10-20 hari.

F.    Pembesaran Ikan Lele
                  Kegiatan pembesaran (fattening) dilakukan untuk menghasilkan lele ukuran konsumsi atau ukuran pasar (marketable size). Untuk menghasilkan lele ukuran 8-12 ekor/kg, pemelihara membesarkan benih ukuran 8-12 cm. Benih yang digunakan harus sehat, berukuran seragam, responsif terhadap pemberian pakan. Jumlah benih yang ditebar dengan kepadatan 100-300 ekor/m2. Kedalaman air untuk pembesaran 80-100 cm, lele diberi pellet sebanyak 3-4 % bobot biomassa ikan dan diberikan 2-3 kali sehari. Pellet yang diberikan kepada lele minimal mengandung protein 20 %. Pakan dengan kandungan protein 25 -28 % cukup  memadai untuk memacu pertumbuhan lele. Karena lele rakus maka dapat pula diberikan pakan tambahan berupa daging bekicot, ikan rucah, bangkai ayam, yang telah direbus atau dibakar, dan daging hewan lainnya. Dengan menebar benih ukuran 8-12 cm, setelah 2,5 bulan pemeliharaan, ikan dapat mencapai ukuran 8-12 ekor/kg.
                   Untuk membuat ikan kebal terhadap serangan peyakit dapat digunakan vitamin C dosis 250-500 mg/kg berat tubuh selama beberapa hari. Atau menggunakan probiotik sebagai immunostimulan, mis lipo polisakarida 10 mg/l untuk mempertahankan stamina ikan.
                   Sebagaimana kolam pendederan, kolam terpal pada pembesaran juga harus dijaga kebersihannya sehingga tidak menjadi sarang penyakit. Sisa pakan dan kotoran ikan di dasar kolam terpal secara rutin dibersihkan dengan melakukan penyifonan tiap 20-30 hari.

G.   Pengelolaan Kualitas Air
          Dalam pemeliharaan ikan di kolam terpal, terutama di daeah tandus dan sulit air,, pergantian  air tidak dapat selalu dilakukan. Yang dapat diakukan hanyalah melakukan sifon untuk mengeluarkaan kotoran yang ada di dasar kolam dan kemudian melakukan penambahan air untuk mengganti air yang hilang akibat penguapan. Pengelolaan air dilakukan untuk menjaga agar kualitas air tetap sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya.
          Dalam budidaya ikan ada beberapa parameter indikator kualitas air perlu diketahui karena dengan berpengaruh terhadap ikan budidaya. Sekalipun ikan yang dibudidayakan  adalah ikan yang tahan pada kualitas air yang ekstrem, seperti oksigen yang minim, ikan akan tetap terpengaruh oleh kondisi air dimana dia  hidup. Pada perairan yang kondisinya fluktuatif, sekalipun ikan dapat bertahan hidup, pertumbuhan ikan akan terhambat  karena energinya terkuras untuk bertahan dari kondisi yang ekstrem itu.  Beberapa parameter kualitas air yang perlu diperhatikan adalah oksigen, pH, suhu, ammonia, nitrit, dan kecerahan. Kualitas air optimal untuk pemeliharaan ikan air tawar dapat dilihat pada table di  bawah
Tabel 1. Kualitas air optimal untuk pemeliharaan ikan air tawar.
Parameter
Kisaran Optimal
Oksigen
3-6 ppm atau mg/l
pH
6,5 – 8,5
Suhu
25-33
Alkalinitas
/l CaCO3
Ammonia
0,1 ppm
Nitrit
 0,005 ppm
Warna air
Hijau
Kecerahan
30-45 cm
Hardness Ca
 / l CaCo3
Hardness total
40 mg/ l CaCO3

a.  Oksigen
          Meskipun beberapa jenis ikan air  tawar mampu bertahan hidup pada perairan dengan konsentrasi oksigen kurang dari 3 mg/l atau ppm, namun konsentrasi minimum yang masih dapat diterima sebagian besar spesies biota air budidaya untuk dapat hidup dengan baik adalah 5-7 mg/l.  Pada pemeliharaan ikan di kolam terpal, semua spesies ikan yang dipelihara tergolong ikan-ikan yang mampu hidup pada perairan yang ekstrem, terutama minim oksigen. Namun kelarutan oksigen perlu dipertahankan agar pertumbuhan ikan tetap optimal, kelarutan oksigen 3-6 ppm di dalam kolam adalah kandungan optimal untuk pertumbuhan ikan.

b.    Suhu
          Pertumbuhan dan kehidupan biota air sangat dipengaruhi suhu air. Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan diperairan tropis antara 28-32  . Pada kisaran tersebut konsumsi oksigen mencapai 2,2 mg/g berat tubuh-jam. Dibawah suhu 25, konsumsi oksigen mencapai 1,2 mg/g berat tubuh –jam. Pada suhu 18-25 , ikan masih dapat  bertahan hidup tetapi nafsu makannya mulai turun. Suhu air 12-18 mulai membahayakan ikan, sedangkan suhu di bawah 12 akan menyebabkan ikan tropis mati kedinginan.
c.    pH Air
           Derajat keasaman lebih dikenal dengan istilah pH. pH (singkatan dari puissance negative de H) yaitu logaritma dari kepekatan ion-ion hydrogen yang terlepas dalam suatu cairan. Derajat keasaman atau pH air menunjukkan aktivitas ion hdrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hydrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu, atau dapat ditulis : pH = -log (H) +. Hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya dapat dilihat pada table di bawah ini.
Tabel 2. Hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya
pH air
Pengaruh terhadap ikan budidaya
4,5
5 – 6,5

6,5 – 9,0

          
Air bersifat racun bagi ikan
Pertumbuhan ikan terhambat dan  ikan sangat sensitive terhadap bakteri dan parasit.
Ikan mengalami pertumbuhan optimal.

Pertumbuhan  ikan terhambat.

d.    Kecerahan
          Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan kedalam air dan dinyatakan dengan persen (%), dari beberapa panjang gelombang di daerah spectrum yang terlihat sebagai cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air. Kemampuan cahaya matahari untuk  menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air. Kekeruhan  dipengaruhi oleh (a) benda-benda halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan sebagainya, (b) adanya jasad-jasad renik (plankton) , dan  warna air.

c.    Amonia dan Nitrit
          Ammonia dan nitrit adalah hasil dari penimbunan limbah kotoran dan sisa  pakan yang terdapat di dasar kolam. Kotoran padat dan sisa pakan yang tidak termakan ini adalah bahan organik dengan kandungan protein tinggi yang diuraikan menjadi polypeptida¸ asam amino, dan akhirnya ammonia sebagai produk akhir yang terakumulasi di dalam air kolam. Di dalam air, ammonia terdapat dalam 2 bentuk, yaitu NH4+ atau biasa disebut Ionized Amonia (IA) yang kurang beracun dan NH3 atau Unionized Ammonia (UIA) yang beracun.
           Secara biologis, di alam sebenarnya dapat terjadi perombakan ammonia menjadi nitrat (NO3), suatu bentuuk yang tidak berbahaya, dalam proses nitrifikasi dengan bantuan bakteri nitrifikasi, terutama Nitrosomonas dan Nitrobacter. Selain memerlukan bakteri tersebut, dalam proses perombakan ini juga diperlukan sejumlah oksigen yang cukup di dalam air. Proses nitirifikasi memerlukan sumber karbon dan oksigen yang cukup sebagi sumber energy, seperti yang terlihat pada reaksi berikut (Poernomo,1989  dikutip oleh Gufron 2010).
           Persiapan kolam yang baik, seperti pengangkatan lumpur dan pengeringan, merupakan salah satu cara untuk mengurangi akumulasi ammonia dan nitrit. Pada kolam terpal, sifon merupakan cara yang baik untuk mengeluarkan kotoran dari dasar air.

H.   Pakan   
                Dalam pemeliharaan ikan di kolam terpal, pakan untuk ikan sepenuhnya berasal dari pemelihara. Di samping itu, pada saat terjadi fluktuasi parameter air, seperti suhu dan oksigen, ikan membutuhkan energi yang cukup untuk dapat berdaptasi dengan situasi tersebut. Pakan yang diberikan kepada ikan harus bergizi (mengandung nutrisi lengkap), cukup, tepat waktu, dan diberikan dengan cara yang tepat sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ikan budidaya.  Ada dua jenis pakan yang dapat diberikan kepada organisme yang dibudidayakan, yaitu pakan buatan dan pakan alami. Pakan buatan adalah pakan yang dibuat oleh manusia yang terbuat dari beberapa bahan. Komposisi dari pakan buatan harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dari organisme yang dipelihara. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan harus tersedia dalam pakan antara lain, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
           Sedangkan pakan alami adalah pakan yang berasal/tersedia di alam, pakan alami dapat berupa daun-daunan, daging ikan atau hewan-hewan lainnya. Beberapa pakan alami yang dapat digunakan sebagai pakan alami adalah bekicot dan keong mas, ikan rucah, limbah peternakan, limbah pemotongan hewan, daun tanaman.
           Pada budidaya intensif, khususnya pendederan dan pembesaran, termasuk juga di kolam terpal, pakan alami hanya merupakan pakan tambahan. Pakan tambahan berupa daun-daunan diberikan kepada hewan budidaya sebanyak 5- 10 % dari bobot tubuh  setiap hari atau seminggu sekali.

I.      Pemberian Pakan
          Dalam pemeliharaan ikan di kolam terpal, pakan untuk ikan sepenuhnya berasal dari  pemelihara. Agar penggunaan akan lebih efisien dan efektif serta menjaga hidup ikan  tetap optimal, teknik pemberian pakan terbaik perlu diterapkan. Pada prinsipnya tujuan penerapan pemberian pakan secara efisien adalah untuk menekan sedikit mungkin pakan yang terbuang secara percuma, sehingga memungkinkan didapatkan keuntungan yang lebih besar. Dalam pemberian pakan ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu cara pemberian pakan, saat atau waktu pemberian, jumlah (porsi) pakan, frekuensi. Dan tempat pemberian pakan.   

J.    Penanggulangan Hama dan Penyakit
             Dalam budiaya ikan, hama dan penyakit dapat mengakibatkan kerugian ekonomi ekonomis karena hama dan penyakit dapat menyebabkan kekerdilan, periode pemeliharaan yang lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang rendah dan kematian sehingga mengakibatkan menurunya hasil produksi. Hama adalah  organisme yang dapat menimbulkan  gangguan pada ikan budi daya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hama dapat berupa predator (pemangsa), kompetitor (penyaing), dan perusak sarana. Untuk menanggulangi serangan hama dapat dilakukan dengan menerapkan penanggulangan hama terpadu yaitu pemberantasan hama yang berhasil tanpa menggunakan obat-obatan yang dapat berdampak buruk pada ekosistem. Tindakan pencegahan dengan mempersiapkan kolam pemeliharaan yang optimal, berupa pintu yang tidak memungkinkan organisme lolos kedalam kolam, menutup permukaan kolam, dan memagar daerah sekitar kolam akan memberikan andil yang sangat besar dalam usaha penanggulangan hama. Beberapa hama yang mungkin dapat mengganggu ikan di kolam terpal adalah insekta, katak dan ular, burung dan mamalia. Sedangkan penyakit yang biasa menyerang terbagi atas dua jenis, yaitu penyakit infeksi dan penyakit non-infeksi. Penyakit infeksi adalah seperti  parasit,bakteri,jamur, dan virus. Sedangkan penyakit non-infeksi adalah penyakit yang ditimbulkan oleh kualitas air, pakan, keracunan, turunan, penanganan, iklim.

K.   Pencegahan  Penyakit
        Agar memberikan hasil yang memuaskan, pemilihan teknik pencegahan ini harus di sesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Beberapa teknik pencegahan hama dan penyakit ikan adalah pembersihan kolam, pembersihan alat, pembersihan ikan pemeliharaan, meningkatkan  kekebalan ikan.

L. Panen dan Pengolahan Hasil
a.  Panen
          Pada hari pemanenan, pemberian pakan dihentikan. Selanjutnya air di kolam  dikeringkan secara bertahap dengan menggunakan pompa isap hingga air tersisa di bagian kolam yang terdalam.selanjtunya semua ikan digiring hinga terkumpul. Tangkap ikan dengan menggunakan seser (jaring tangan) atau dengan tangan dan dipindahkan ke dalam bak atau waring yang airnya mengalir agar tubuh ikan menjadi bersih. Kemudian pisahkan ikan sesuai dengan ukuran (sortir).

b.  Penanganan hasil
          Setelah pemanenan, langkah selanjutnya adalah penanganan hasil. Penanganan hasil harus disesuaikan dengan jarak dan waktu tempuh ke konsumen. Hal ini penting untuk menjaga ikan agar tetap hidup atau tetap segar  hingga di tangan konsumen. ada  2 macam penanganan hasil ikan, yaitu penanganan ikan hidup, penanganan ikan segar.



1.    Penanganan ikan hidup
           Ikan yang baru dipenen diasukkan kedalam wadah yang berisi air segar. Selanjutnya ikan-ikan dimasukkan dalam wadah yang memenuhi syarat untuk menjaga ikan tetap hidup, seperti kantong plastik, bak, tong, tangki, atau wadah lainnya. Permasalahan yang dihadapi dalam pengangkutan ikan hidup adalah  ikan menjadi stres. Ikan yang stress lebih mudah mati. Untuk mengurangi stress maka harus diusahakan agar selama pengangkutan ikan seminimal mungkin bergerak. Caranya adalah dengan menurunkan suhu air ataupun memberikan obat bius pada ikan. obat bius dapat diterapkan pada wadah terbuka atau tertutup. Obat bius yang digunakan, misalnya phenoxy-ethanol dengan dosis 0,15 mg/liiter air media atau miinyak cengkeh dosis 10-20 ppm. Ikan dengan bobot 200-300 g dapat diangkut dengan kepadatan 30 ekor// 10 liter air selama 6 jam perjalanan.
           Penurunan suhu juga dapat dilakukan untuk membius ikan, suhu air media 18 sudah dapat meredam aktivitas gerak ikan. penurunan suhu air  harus dilakukan secara berangsur-angsur agar ikan dapat menyesuaikan diri secara biologis. Bahan penurun suhu yang biasa digunakan adalah es dan nitrogen cair. Penggunaan obat bius dalam pengangkutan ikan harus hati-hati agar tidak menibulkan dampak negatif bagi ikan, lingkungan, dan manusia.




2.    Penanganan Ikan segar
       Ikan hasil panen yang telah mati harus dijaga agar tetap segar hingga sampai di tangan konsumen. Penurunan kualitas ikan yang mati sangat cepat. Kerusakan daging ikan disebabkan oleh : 1). Adanya enzim dalam tubuh ikan yang menyebabkan daging ikan membusuk (otolisis). 2). Adanya bakteri pembusuk dari luar tubuh ikan yang masuk ke dalam jaringan tubuh ikan dan menghancurkannya, dan (3). Adanya proses kimia di dalam jaringan tubuh yang mulai membusuk karena proses otolisis. Proses pembusukan ikan akan semakin cepat bila suhu semakin tinggi. Proses pembusukan ikan dapat  dihambat bila suhu didinginkan sampai 0 atau lebih rendah lagi. Perlakuan untuk mempertahankan kesegaran ikan dapat diterapkan prinsip rantai dingin. Artinya, setelah panen dan mati, ikan harus diberi es. Jumlah es yang digunakan tergantung waktu pengawetan yang diinginkan. Perlakuan untuk mempertahankan kesegaran ikan adalah sebagi berikut :
a.    Pemanenan ikan harus dilakukan secara hati-hati agar ikan tidak terluka. Ikan yang terluka mudah terserang bakteri  sehingga otolisis terjadi.
b.    Ikan dimasukkan dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6 -7 . Pada suhu tersebut ikan yang masih hidup akan cepat pingsan dan mati tanpa meronta. Jumlah es yang digunakan adalah 1/6 volume air.
c.    Sebelum dikemas, ikan harus dicuci hingga bersih.
d.    Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat yang hanya memerlukan waktu 2-4 jam dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang atau plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dari seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm. ukuran ini adalah ukuran standar yang dapat menghindari resiko kerusakan ikan.
e.    Es yang digunakan harus es potongan kecil-kecil (es curah). Perbandingan  jumlah es dan ikan sebaiknya 1:1 es diletakkan secara berlapis-lapis. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi, begitu seterusnya. Antara ikan dengan dinding boks diberi es. Demikian juga antara ikan dengan penutup boks. Untuk pengangkutan dengan angkutan darat biasanya digunakan boks yang tidak berinsulasi. Hal ini mengakibatkaan es cepat mencair ketika udara panas. Oleh karena iitu bila perjalanannya lebih dari 6 jam perlu ditambahkan es di perjalanan. Ikan yang disimpan di dalam boks berinsulasi dan diberi es sesuai prosedur diatas akan tahan sampai 7 hari.



BAB III
KESIMPULAN
          Dari pembahasan diatas penyusun dapat menarik kesimpulan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.     Ikan  lele merupakan ikan yang mampu untuk hidup di daerah yang kritis atau daerah yang tidak memiliki pengairan yang memadai.
2.    Pemberian pakan yang teratur akan mempercepat laju petumbuhan, dan meminimalisir timbulnya penyakit  pada organisme yang dibudidayakan.
3.    Dengan melakukan pengotrolan dan menerapkan prosedur pemeliharaan yang baik, akan mencegah munculnya hama di lokasi budidaya.
4.    Dengan melakukan penanganan hasil panen yang baik, akan menjaga kesegaran dan mutu dari ikan hasil panen, dan meningkatkan nilai jualnya.







DAFTAR PUSTAKA
Ghufran, M. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan Air Tawar di Kolam Terpal.  Yogjakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar