BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Biologi
dan Klasifikasi
Menurut Weber dan De Beaufort klasifikasi
ikan lele dari hasil taksonominya pada tahun 1965 adalah sebagi berikut :
Kelas :Pisces
Sub kelas :Telestoi
Species (jenis) :
Clarias Batrachus
Genus (marga) :
Clarias
Famili (suku) :
Claridae.
Sub ordo (kelompok) : Siluroidae
Ordo (bangsa) : Ostariophysi
Filum (chordata) : binatang bertulang belakang
Di dalam buku Freshwater Fishes of Westren Indonesia and Sulawesi (Kottelat, et.all,1993 dikutip oleh
Gufron, 2010) disebutkan beberapa spesies ikan lele, yaitu Clarias batracus, C.
leiacanthus, C. maladerma, C. nieuhofi, C. teijsmani, dan C. grapienus. Spesies
C. gariepinus atau yang lebih dikenal
sebagai lele dumbo, merupakan ikan introduksi, semestara yang lainnya merupakan
spesies asli (indigenous spesies) di perairan Indonesia.
Bentuk badan ikan lele memanjang.
Tengah badannya mempunyai potongan membulat dengan kepala pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang
tubuhnya berbentuk pipih ke samping (compressed). Dengan demikian pada lele
ditemukan tiga bentuk potongan melintang, yaitu pipih ke bawah, bulat, dan
pipih ke samping.
Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh
tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang. Di
sinilah terdapat alat pernafasan tambahan yang tergabung dengan busur insang
kedua dan keempat. Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi
empat sungut (kumis). Lubang hidung yang depan merupakan tabung pendek yang
berada di belakang bibir atas: lubang hidung sebelah belakang merupakan celah
yang kurang lebih bundar, berada di belakang sungut nasal. Mata berbentuk kecil
dengan tepi orbital yang bebas.
Sirip
ekor ikan lele membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung maupun sirip
anal. Sirip perut membulat dan panjangnya mencapai sirip anal. sirip dada pada
lele lokal (C. batrachus) dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil atau taji. Patil ini beracun, Terutama pada ikan-ikan remaja. Ikan yang sudah
tua agak berkurang kadar ,racunnya. Selain untuk membela diri dari ancaman luar
yang menggangu,patil ini juga digunakan lele lokal untuk melompat keluar dari
air dan melarikan diri. Dengan menggunakan patil ini, lele lokal dapat
“berjalan” di darat tanpa air cukup lama dan jauh. Lele dumbo dan lele keli,
patilnya pendek, tidak tajam dan tidak beracun sehingga tidak melukai tangan,
tidak digunakan untuk membuat lubang dan tidak merusak pematang kolam.
Lele merupakan ikan yang berukuran
sedang sampai besar. Lele dumbo merupakan lele berukuran besar yang dapat
tumbuh hingga mencapai lebih dari 15 kg/ ekor dengan panjang hingga 1 meter.
Sedangkan lele local, walaupun dapat tumbuh hingga 62 cm, pertumbuhannya sangat
lambat.
Habitat ikan lele adalah semua
perairan tawar. Sungai yang airnya tidak deras, dan perairan yang tenang
seperti danau, waduk, rawa-rawa serta genangan air lainnya. Seperti kolam dan
air comberan, merupakan lingkungan hidup ikan lele.
Di sungai, ikan ini lebih banyak dijumpai di
tempat-tempat yang aliran airnya tidak deras. Pada kelokan aliran sungai yang
arusnya lambat ikan lele seringkali tertangkap. Ikan ini tidak menyukai tempat
yang tertutup rapat bagian atasnya oleh tanaman air, tetapi lebih menyukai
tempat yang terbuka. Ini berhubungan dengan sifatnya yang sewaktu-waktu suka
mengambil oksigen langsung dari udara.
Lele mempunyai alat pernafasan
tambahan yang disebut arborescent organ,
yaitu membran yang berllipat-lipat penuh dengan kapiler darah, yang terletak di
bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga, berbentuk mirip pohon atau bunga
bunga. Karena itu lele dapat mengambil oksigen langsung dari udara, yang untuk
itu lele akan menyembul kepermukaan air. Lele relatif tahan terhadap pencemaran
bahan-bahan organik sehingga tahan hidup di comberan yang airnya kotor dan
tergenang.
Lele hidup dengan baik di daratan
rendah sampai pada ketinggian 600 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan suhu
25-30
. Pada ketinggian di atas 700 m dpl
pertumbuhan ikan lele kurang baik. Lele tidak cocok hidup di air payau atau
asin, walaupun sering berenang hingga ke bagian air yang agak payau.
Lele termasuk hewan malam (nocturnal) dan menyukai tempat yang gelap.
Aktif bergerak mencari makan pada malam hari dan memillih berdiam diri,
bersembunyi di tempat terlindung pada siang hari. Sesekali ikan ini muncul di
permukaan untuk menghirup oksigen langsung dari udara.
Lele adalah pemakan hewan atau bangkai
(carnivorous-scavanger). Makanannya berupa binatang-binatang renik seperti kutu
air (Dapnhia, Cladocera, Copepoda),
cacing larva (jentik-jentik serangga), siput kecil dan sebagainya. Lele juga
memakan makanan yang membusuk, seperti bangkai hewan dan kotoran manusia
Ikan ini biasanya mencari makanan di
dasar perairan, tetapi bila ada makanan yang terapung maka lele juga dengan
cepat menyambarnya. Dalam mencari makanan, lele tidak mengalami kesulitan
karena mempunyai alat peraba (sungut) yang sangat peka terhadap keberadaan
makanan. Baik di dasar perairan, di pertengahan, maupun di permukaan.
Lele dikenal sebagai ikan rakus dalam hal
makan. Karena itu walau dikenal sebagai pemakan hewan (karnivora), tetapi juga
makan apa saja yang diperolehnya, termasuk sisa-sisa dapur seperti nasi dan
dedak yang dibuang ke kolam. Meski begitu
sifatnya sebagai ikan pemakan hewan atau karnivora tetap melekat pada dirinya.
Ini terbukti, bila dalam pemeliharaanya diberikan pakan yang mengandung protein
nabati maka pertumbuhannya akan lambat. Pertumbuhan lele dapat dipacu dengan
memberikan pellet yang mengandung protein menimal 25 %. Juga diberikan pakan
tambahan berupa bangkai hewan, bangkai itik, ikan rucah, daging bekicot, siput
air, dan sebagainya.
Di alam, lele memijah pada musim
penghujan. Jika sudah matang gonad, ikan
jantan dan betina berpasangan dalam memijah. Pasangan ini lalu mencari
lokasi yang teduh dan aman untuk membuat
sarang. Lubang sarang yang dibuat ikan lele kira-kira 20-30 cm di
permukaan air. Lele tidak membuat sarang dari suatu bahan (jerami atau rumput-rumputan)
seperti ikan gurami, melainkan hanya menggali lubang beriameter sekitar 25 cm,
telurnya diletakkan di atas dasar lubang sarang tersebut.
Pada perkawinannya, induk betina
melepaskan telur bersamaan waktunya dengan jantan melepaskan spermanya di dalam
air. Pembuahan antara telur dan sperma terjadi di dalam air. Telur yang telah
dibuahi dijaga oleh induk betina sampai telur menetas hingga anak-anak lele
cukup kuat berenang. Lama penjagaan ini antara 7-10 hari.
Biasanya lele memijah pada sore hari
hingga malam hari dimusim hujan. Namun lele dipelihara di kolam dapat memijah
sepanjang tahun asalkan diberi pakan yang sesuai secara cukup serta kondisi
yang optimum. Pemijahan lele dapat dilakukan secara alami maupun buatan, atau
kawin suntik (hipofisa). Ikan yang dipijahkan harus dipilih yang telah mencapai
bobot 300 g untuk ikan betina dan 200 g untuk jantan pada jenis lele keli, 150
g untuk induk jantan dan 200 g untuk induk betina pada lele lokal. Sedangkan
lele dumbo dipilih yang telah berbobot 500 g untuk induk betina dan 400 g untuk
induk jantan.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana cara memelihara ikan dengan
menggunakan kolam terpal.
2.
Factor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pembudidayaan di kolam terpal.
3.
Bagaimana cara melakukan pemanenan dan
perlakuan pada saat pasca panen.
C. Tujuan
1.
Untuk memberikan referensi bagi mahasiswa
tentang cara budidaya ikan yang praktis.
2.
Menambah wawasan mahasiswa tentang budidaya
ikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pemeliharaan
Ikan Lele Di Kolam Terpal
Salah satu sistem budidaya intensif
pada akuakultur air tawar adalah sistem budi daya kolam terpal. Sistem budidaya
ikan di kolam terpal merupakan salah
satu inovasi baru dalam pengembangan budidaya ikan. sistem budi daya kolam
terpal pertama kali dikembangkan oleh bapak Mujarob, seorang petani di bekasi,
jawa barat, pada tahun 1999, dengan membudidaya ikan lele. Saat ini kolam
terpal telah digunakan untuk budi daya segala jenis ikan, seperti lele, gurami,
nila, patin, bawal air tawar, dan sebagainya.
Budi
daya ikan kolam terpal memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
a. Dapat
diterapkan dilahan bebas.
b. Dapat
diterapkan di lahan atau tanah yang porous,
tanah yang menyerap air, atau tanah berpasir.
c. Dapat
diterapkan di daerah sulit air.
d. Pembuatannya
praktis.
e. Waktu
produksi yang lebih singkat.
f. Ikan-ikan
yang dibudidayakan di kolam terpal tidak berbau lumpur.
g. Sintasan
atau kelangsungan hidup (survival rate)
ikan yang dippelihara di kolam terpal lebih tinggi, yang dapat mencapai 90-95
%.
h. Padat
penebaran lebih tinggi.
i.
Pertumbuhan ikan lebih cepat.
j.
Biaya pertumbuhan kolam terpal lebih murah
Berbagai keunggulan kolam terpal ini merupakan suatu
peluang yang baik bagi pengembangan budi
daya ikan. kolam terpal dapat diterapkan untuk kegiatan pembenihan, pendederan,
hingga pembesaran untuk menghasilkan ikan konsumsi dan indukan.
B.
Lokasi
Untuk Kolam Terpal
Telah disebutkan bahwa kolam terpal merupakan
salah satu alternatif teknologi budidaya ikan yang dapat diterapkan pada lahan
sempit, minim air, ataupun pada lahan yang tanahnya porous, terutama tanah berpasir. Kolam terpal dapat menjadi solusi
untuk pengembangan budidaya ikan di lahan kritis.
Kolam tepal berbeda dengan kolam
konvensional, seperti kolam air mengalir dan kolam air deras yang
pembangunannya harus dilakukan di lokasi yang memiliki sumber air dengan
kuantitas dan kualitas yang ideal. Pada budidaya ikan di kolam terpal, kuantitas
dan kualitas air, sekalipun tetap merupakan faktor penting, hal itu tidak
menjadi faktor pembatas.
Sumber air untuk kolam terpal tidak harus
berupa sumber air utama yang dikenal dalam sistem budidaya konvensional seperti
danau, waduk, sungai, rawa-rawa, dan saluran irigasi. Kolam terpal bisa dengan air sumur, air dari PAM
(Perusahaan Air Minum), air hujan yang telah ditampung ataupun air limbah yang
telah di treatment. Namun demikian
pemanfaatan lahan sempit atau kritis untuk pembangunan kolam terpal perlu
mempertimbangkan faktor teknis maupun faktor sosial.
a.
Pertimbangan
Teknis
Kolam terpal dapat dibangun di berbagai tempat, termasuk di halaman
rumah, bekas garasi mobil atau bekas gudang. Beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam membangun kolam terpal antara lain sebagai berikut :
a. Sumber
air untuk mengisi kolam seperti sumur, air PAM, tempat penampungan air hujan,
dan sumber-sumber lain yang layak digunakan.
b. Ketinggian
lokasi untuk pembangunan kolam terpal perlu diperhatikan karena terkait
dengan suhu air.
c. Ukuran
ikan yang terkait dengan kedalaman air dalam kolam, misalnya benih gurami yang
cocok dipelihara pada kedalaman 20-40 cm. untuk menampung air dengan kedalam 40
cm, dapat dibuat kolam dengan kedalaman 60 cm.
d. Dasar
kolam untuk peletakan kolam terpal harus rata.
e. Untuk
kolam yang dibangun di pemukiman penduduk harus dipertimbangkan pengelolaan air
limbahnya.
b.
Pertimbangan
Sosial Ekonomi
Pengembangan budidaya ikan di kolam terpal
juga perlu mempertimbangkan faktor sosial-ekonomi, diantaranya..
a. Lokasi
yang dipilih untuk pemeliharaan ikan dengan kolam terpal bukanlah lahan
sengketa.
b. Dekat
dengan daerah pengembangan budidaya ikan sehingga mudah untuk memperoleh induk
ataupun benih.
c. Tersedia
sarana dan prasarana transportasi yang memadai untuk pengadaan alat dan bahan
maupun trasnportasi benih hasil panen, dan lain-lain.
d. Adanya
alat dan bahan di sekitar lokasi, atau pengadaanya mudah.
e. Pasar
cukup terbuka untuk menampung produksi, baik pasar lokal maupun ekspor, serta
harga yang cukup memadai.
f. Lokasi
cukup aman dari ganguan hewan liar maupun manusia (pencurian). Harus ada cara
efektif untuk mengatasi ganguan tersebut.
g. Adanya
sumber energi listrik untuk penerapan dan kebutuhan lainnya. Mis mengoprasikan
pompa air dan aerator.
h. Adanya
dukungan dari pihak-pihak terkait, misalnya permodalan dan yang lain. Untuk
petani ikan kecil, dukungan juga dapat berupa penyuluhan dan pemasaran hasil.
C. Membuat Kolam Terpal
Sesuai dengan namanya, kolam terpal adalah kolam yang keseluruhan bentuknya, dari
bagian dasarnya hingga dindingnya
menggunakan bahan utama berupa terpal. Selain dapat berbentuk seperti kolam
tanah atau kolam tembok, kolam terpal juga bisa berbentuk bak dengan sokongan
kerangka bambo, kayu, atau besi.
1. Jenis
kolam terpal
a. Kolam
terpal di atas permukaan tanah
b. Kolam
terpal di bawah permukaan tanah
2. Bahan
dan Alat untuk membuat kolam terpal
a. Plastik
terpal
b. Kayu/
bambu/ pipa
c. Papan/
seng/ asbes
d. Pipa
paralon
e. Paku/kawat/tali
f. Alat
kerja
D.
Benih
dan Pengadaan Benih
Pertumbuhan ikan budidaya dapat dipacu
dengan penggunaan benih berkualitas.
Benih berkualitas hanya dapat diperoleh dari hatchery yang menerapkan sistem
pembenihan yang menerapkan sistem pembenihan yang baik. untuk memperoleh benih
berkualiitas, beberapa kriteria yang dapat digunakan antara lain sebagi berikut
:
1. Benih
berkualitas
a. Hatchery
atau pembenihan terpercaya
b. Sehat dan tidak cacat
c. Seragam
d. Respon
terhadap pemberian pakan
e. Bebas
dari organisme penyakit
f. Sesuai
dengan standar
2. Pengangkutan
benih
Umunya benih yang digunakan untuk kegiatan
pembesaran adalah benih yang berukuran 3-5 cm, 5-8 cm dan 8-12 cm. Benih-benih
tersebut diangkut ke lokasi pemeliharaan untuk ditebar. Pengangkutan benih ke
lokasi pemeliharaan dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup.
Pengangkutan benih sistem terbuka umumnya
dilakukan untuk mengangkut ikan dalam jarak dekat dan memerlukan waktu yang
relatif tidak lama. Sebagai alat pengangkut dapat digunakan ember, baskom, atau
keramba pikulan.
Sedangkan pengangkutan benih sistem
tertutup umumnya diterapkan untuk
pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu lebih dari 4-5 jam.
Biasannya sistem pengangkutan benih ini dilakukan dengan menggunakan mobil,
kereta, kapal laut, atau pesawat terbang.
Wadah yang digunakan adalah kantong
plastik untuk jarak dekat, kantong plastik tidak perlu diisi gas oksigen.
Ukuran kantong plastik berbeda-beda menurut banyaknya benih dan jarak yang akan
ditempuh.Tebal plastik sebaiknya antara 0,004-0,005. Bahan untuk kantong plastik
dapat berupa plastik rangkap gulungan dengan lebar 50 cm.
E.
Pendederan
Ikan Lele
Benih yang dihasilkan dari kegiatan
pendederan umumnya mencapai ukuran 5-8 cm dan 8-12 cm. Benih ukuran tersebut
sudah cukup kuat untuk dipelihara di perairan yang agak dalam. Untuk
menghasilkan ukuran tersebut perlu dilakukan pemeliharaan yang biasa disebut
pendederan. Pendederan dilakukan 1-2 bulan.
Pendederan lele di kolam terpal sebaiknya
dimulai dari benih berumur
hari atau yang telah mencapai ukuran 0,7-1 cm.
Benih umur
hari sudah dapat diadaptasi dengan pakan
buatan. Benih ditebar dengan kepadatan 20-30 ekor/liter air. Bila benih telah
mencapai ukuran 3-5 cm, padat penebarannya antara 1.000- 1.500 ekor/m2.
Untuk mencapai ukuran 8-12 cm, benih ukuran 3-5 cm dipelihara 2 bulan.
Kedalaman air kolam antara 30-40 cm. Selama pemeliharaan, benih ukuran 0,7-1 cm
diberi pakan berupa kutu air dan cacing sutra sebanyak 3-5 kali sehari. Pakan
alami tersebut diberikan hingga benih mencapai umur 14 hari dan pada hari ke-15
sampai 30 hari benih sudah dapat diberi pellet yang agak kasar. Jumlah pakan
yang diberikan sebanyak 10-20 % dari total berat badan ikan. Bila benih telah
mencapai ukuran 3-5 cm maka jumlah pakan yang diberikan diturunkan menjadi 5-10
% total berat badan ikan.
Pakan
untuk benih lele sebaiknya mengandung protein minimal 25%. Ini karena benih
lele membutuhkan protein yang banyak untuk tumbuh. Di alam, benih memakan
berbagai plankton yang terdiri dari hewan dan tumbuhan yang mengandung protein.
Untuk mencegah benih lele terserang penyakit,
sebaiknya benih diberi vitamin C dosis 250-500 mg/kg berat tubuh selama
beberapa hari sebagai imunostimulan atau diberikan lipopolisakarida 10 mg/l
untuk mempertahankan stamina benih.
Kolam juga harus dijaga kebersihannya agar tidak menjadi sarang
penyakit. Sisa pakan atau kotoran ikan di dasar kolam terpal secara rutin
dibersihkan dengan penyifonan tiap 10-20 hari.
F.
Pembesaran
Ikan Lele
Kegiatan pembesaran (fattening) dilakukan untuk menghasilkan lele ukuran konsumsi atau
ukuran pasar (marketable size). Untuk
menghasilkan lele ukuran 8-12 ekor/kg, pemelihara membesarkan benih ukuran 8-12
cm. Benih yang digunakan harus sehat, berukuran seragam, responsif terhadap
pemberian pakan. Jumlah benih yang ditebar dengan kepadatan 100-300 ekor/m2.
Kedalaman air untuk pembesaran 80-100 cm, lele diberi pellet sebanyak 3-4 %
bobot biomassa ikan dan diberikan 2-3 kali sehari. Pellet yang diberikan kepada
lele minimal mengandung protein 20 %. Pakan dengan kandungan protein 25 -28 %
cukup memadai untuk memacu pertumbuhan
lele. Karena lele rakus maka dapat pula diberikan pakan tambahan berupa daging
bekicot, ikan rucah, bangkai ayam, yang telah direbus atau dibakar, dan daging
hewan lainnya. Dengan menebar benih ukuran 8-12 cm, setelah 2,5 bulan
pemeliharaan, ikan dapat mencapai ukuran 8-12 ekor/kg.
Untuk
membuat ikan kebal terhadap serangan peyakit dapat digunakan vitamin C dosis
250-500 mg/kg berat tubuh selama beberapa hari. Atau menggunakan probiotik
sebagai immunostimulan, mis lipo polisakarida 10 mg/l untuk mempertahankan
stamina ikan.
Sebagaimana kolam pendederan, kolam terpal
pada pembesaran juga harus dijaga kebersihannya sehingga tidak menjadi sarang
penyakit. Sisa pakan dan kotoran ikan di dasar kolam terpal secara rutin
dibersihkan dengan melakukan penyifonan tiap 20-30 hari.
G.
Pengelolaan
Kualitas Air
Dalam pemeliharaan ikan di kolam
terpal, terutama di daeah tandus dan sulit air,, pergantian air tidak dapat selalu dilakukan. Yang dapat
diakukan hanyalah melakukan sifon untuk mengeluarkaan kotoran yang ada di dasar
kolam dan kemudian melakukan penambahan air untuk mengganti air yang hilang
akibat penguapan. Pengelolaan air dilakukan untuk menjaga agar kualitas air
tetap sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya.
Dalam budidaya ikan ada beberapa
parameter indikator kualitas air perlu diketahui karena dengan berpengaruh
terhadap ikan budidaya. Sekalipun ikan yang dibudidayakan adalah ikan yang tahan pada kualitas air yang
ekstrem, seperti oksigen yang minim, ikan akan tetap terpengaruh oleh kondisi
air dimana dia hidup. Pada perairan yang
kondisinya fluktuatif, sekalipun ikan dapat bertahan hidup, pertumbuhan ikan
akan terhambat karena energinya terkuras
untuk bertahan dari kondisi yang ekstrem itu.
Beberapa parameter kualitas air yang perlu diperhatikan adalah oksigen,
pH, suhu, ammonia, nitrit, dan kecerahan. Kualitas air optimal untuk
pemeliharaan ikan air tawar dapat dilihat pada table di bawah
Tabel
1. Kualitas air optimal untuk pemeliharaan ikan air tawar.
|
Parameter
|
Kisaran Optimal
|
|
Oksigen
|
3-6
ppm atau mg/l
|
|
pH
|
6,5
– 8,5
|
|
Suhu
|
25-33
|
|
Alkalinitas
|
|
|
Ammonia
|
|
|
Nitrit
|
|
|
Warna
air
|
Hijau
|
|
Kecerahan
|
30-45
cm
|
|
Hardness
Ca
|
|
|
Hardness
total
|
|
a. Oksigen
Meskipun beberapa jenis ikan air tawar mampu bertahan hidup pada perairan
dengan konsentrasi oksigen kurang dari 3 mg/l atau ppm, namun konsentrasi
minimum yang masih dapat diterima sebagian besar spesies biota air budidaya
untuk dapat hidup dengan baik adalah 5-7 mg/l.
Pada pemeliharaan ikan di kolam terpal, semua spesies ikan yang
dipelihara tergolong ikan-ikan yang mampu hidup pada perairan yang ekstrem,
terutama minim oksigen. Namun kelarutan oksigen perlu dipertahankan agar
pertumbuhan ikan tetap optimal, kelarutan oksigen 3-6 ppm di dalam kolam adalah
kandungan optimal untuk pertumbuhan ikan.
b.
Suhu
Pertumbuhan dan kehidupan biota air
sangat dipengaruhi suhu air. Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan
diperairan tropis antara 28-32
. Pada kisaran tersebut konsumsi oksigen
mencapai 2,2 mg/g berat tubuh-jam. Dibawah suhu 25
, konsumsi oksigen mencapai 1,2 mg/g
berat tubuh –jam. Pada suhu 18-25
, ikan masih dapat bertahan hidup tetapi nafsu makannya mulai
turun. Suhu air 12-18
mulai membahayakan ikan, sedangkan suhu di
bawah 12
akan menyebabkan ikan tropis mati kedinginan.
c. pH
Air
Derajat keasaman lebih dikenal
dengan istilah pH. pH (singkatan dari puissance
negative de H) yaitu logaritma dari kepekatan ion-ion hydrogen yang
terlepas dalam suatu cairan. Derajat keasaman atau pH air menunjukkan aktivitas
ion hdrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion
hydrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu, atau dapat ditulis : pH =
-log (H) +. Hubungan antara pH air dan kehidupan ikan budidaya dapat dilihat
pada table di bawah ini.
Tabel 2. Hubungan antara pH
air dan kehidupan ikan budidaya
|
pH
air
|
Pengaruh
terhadap ikan budidaya
|
|
5 – 6,5
6,5 – 9,0
|
Air bersifat racun bagi
ikan
Pertumbuhan ikan
terhambat dan ikan sangat sensitive
terhadap bakteri dan parasit.
Ikan mengalami
pertumbuhan optimal.
Pertumbuhan ikan terhambat.
|
d. Kecerahan
Kecerahan adalah sebagian cahaya yang
diteruskan kedalam air dan dinyatakan dengan persen (%), dari beberapa panjang
gelombang di daerah spectrum yang terlihat sebagai cahaya yang melalui lapisan
sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air. Kemampuan cahaya
matahari untuk menembus sampai ke dasar
perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity)
air. Kekeruhan dipengaruhi oleh (a)
benda-benda halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan sebagainya, (b) adanya
jasad-jasad renik (plankton) , dan warna
air.
c. Amonia
dan Nitrit
Ammonia dan nitrit adalah hasil dari
penimbunan limbah kotoran dan sisa pakan
yang terdapat di dasar kolam. Kotoran padat dan sisa pakan yang tidak termakan
ini adalah bahan organik dengan kandungan protein tinggi yang diuraikan menjadi
polypeptida¸ asam amino, dan akhirnya
ammonia sebagai produk akhir yang terakumulasi di dalam air kolam. Di dalam
air, ammonia terdapat dalam 2 bentuk, yaitu NH4+ atau
biasa disebut Ionized Amonia (IA)
yang kurang beracun dan NH3 atau Unionized
Ammonia (UIA) yang beracun.
Secara biologis, di alam sebenarnya
dapat terjadi perombakan ammonia menjadi nitrat (NO3), suatu bentuuk
yang tidak berbahaya, dalam proses nitrifikasi dengan bantuan bakteri
nitrifikasi, terutama Nitrosomonas dan
Nitrobacter. Selain memerlukan bakteri tersebut, dalam proses perombakan
ini juga diperlukan sejumlah oksigen yang cukup di dalam air. Proses
nitirifikasi memerlukan sumber karbon dan oksigen yang cukup sebagi sumber
energy, seperti yang terlihat pada reaksi berikut (Poernomo,1989 dikutip oleh Gufron 2010).
Persiapan kolam yang baik, seperti
pengangkatan lumpur dan pengeringan, merupakan salah satu cara untuk mengurangi
akumulasi ammonia dan nitrit. Pada kolam terpal, sifon merupakan cara yang baik
untuk mengeluarkan kotoran dari dasar air.
H.
Pakan
Dalam
pemeliharaan ikan di kolam terpal, pakan untuk ikan sepenuhnya berasal dari
pemelihara. Di samping itu, pada saat terjadi fluktuasi parameter air, seperti
suhu dan oksigen, ikan membutuhkan energi yang cukup untuk dapat berdaptasi
dengan situasi tersebut. Pakan yang diberikan kepada ikan harus bergizi
(mengandung nutrisi lengkap), cukup, tepat waktu, dan diberikan dengan cara
yang tepat sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh ikan budidaya. Ada dua jenis pakan yang dapat diberikan
kepada organisme yang dibudidayakan, yaitu pakan buatan dan pakan alami. Pakan
buatan adalah pakan yang dibuat oleh manusia yang terbuat dari beberapa bahan.
Komposisi dari pakan buatan harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi dari
organisme yang dipelihara. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan harus
tersedia dalam pakan antara lain, protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan
mineral.
Sedangkan pakan alami adalah pakan
yang berasal/tersedia di alam, pakan alami dapat berupa daun-daunan, daging
ikan atau hewan-hewan lainnya. Beberapa pakan alami yang dapat digunakan
sebagai pakan alami adalah bekicot dan keong mas, ikan rucah, limbah
peternakan, limbah pemotongan hewan, daun tanaman.
Pada budidaya intensif, khususnya
pendederan dan pembesaran, termasuk juga di kolam terpal, pakan alami hanya
merupakan pakan tambahan. Pakan tambahan berupa daun-daunan diberikan kepada
hewan budidaya sebanyak 5- 10 % dari bobot tubuh setiap hari atau seminggu sekali.
I.
Pemberian
Pakan
Dalam pemeliharaan ikan di kolam terpal, pakan
untuk ikan sepenuhnya berasal dari
pemelihara. Agar penggunaan akan lebih efisien dan efektif serta menjaga
hidup ikan tetap optimal, teknik
pemberian pakan terbaik perlu diterapkan. Pada prinsipnya tujuan penerapan
pemberian pakan secara efisien adalah untuk menekan sedikit mungkin pakan yang
terbuang secara percuma, sehingga memungkinkan didapatkan keuntungan yang lebih
besar. Dalam pemberian pakan ada lima hal yang perlu diperhatikan, yaitu cara
pemberian pakan, saat atau waktu pemberian, jumlah (porsi) pakan, frekuensi.
Dan tempat pemberian pakan.
J.
Penanggulangan
Hama dan Penyakit
Dalam budiaya ikan, hama dan penyakit dapat
mengakibatkan kerugian ekonomi ekonomis karena hama dan penyakit dapat menyebabkan
kekerdilan, periode pemeliharaan yang lebih lama, tingginya konversi pakan,
tingkat padat tebar yang rendah dan kematian sehingga mengakibatkan menurunya hasil
produksi. Hama adalah organisme yang
dapat menimbulkan gangguan pada ikan
budi daya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hama dapat berupa
predator (pemangsa), kompetitor (penyaing), dan perusak sarana. Untuk
menanggulangi serangan hama dapat dilakukan dengan menerapkan penanggulangan
hama terpadu yaitu pemberantasan hama yang berhasil tanpa menggunakan
obat-obatan yang dapat berdampak buruk pada ekosistem. Tindakan pencegahan
dengan mempersiapkan kolam pemeliharaan yang optimal, berupa pintu yang tidak
memungkinkan organisme lolos kedalam kolam, menutup permukaan kolam, dan
memagar daerah sekitar kolam akan memberikan andil yang sangat besar dalam
usaha penanggulangan hama. Beberapa hama yang mungkin dapat mengganggu ikan di
kolam terpal adalah insekta, katak dan ular, burung dan mamalia. Sedangkan
penyakit yang biasa menyerang terbagi atas dua jenis, yaitu penyakit infeksi
dan penyakit non-infeksi. Penyakit infeksi adalah seperti parasit,bakteri,jamur, dan virus. Sedangkan
penyakit non-infeksi adalah penyakit yang ditimbulkan oleh kualitas air, pakan,
keracunan, turunan, penanganan, iklim.
K.
Pencegahan Penyakit
Agar memberikan hasil yang memuaskan,
pemilihan teknik pencegahan ini harus di sesuaikan dengan kondisi lingkungan
setempat. Beberapa teknik pencegahan hama dan penyakit ikan adalah pembersihan
kolam, pembersihan alat, pembersihan ikan pemeliharaan, meningkatkan kekebalan ikan.
L.
Panen dan Pengolahan Hasil
a. Panen
Pada hari pemanenan, pemberian pakan dihentikan.
Selanjutnya air di kolam dikeringkan
secara bertahap dengan menggunakan pompa isap hingga air tersisa di bagian
kolam yang terdalam.selanjtunya semua ikan digiring hinga terkumpul. Tangkap ikan
dengan menggunakan seser (jaring tangan) atau dengan tangan dan dipindahkan ke
dalam bak atau waring yang airnya mengalir agar tubuh ikan menjadi bersih.
Kemudian pisahkan ikan sesuai dengan ukuran (sortir).
b. Penanganan
hasil
Setelah pemanenan, langkah
selanjutnya adalah penanganan hasil. Penanganan hasil harus disesuaikan dengan
jarak dan waktu tempuh ke konsumen. Hal ini penting untuk menjaga ikan agar
tetap hidup atau tetap segar hingga di
tangan konsumen. ada 2 macam penanganan
hasil ikan, yaitu penanganan ikan hidup, penanganan ikan segar.
1. Penanganan
ikan hidup
Ikan yang baru dipenen diasukkan
kedalam wadah yang berisi air segar. Selanjutnya ikan-ikan dimasukkan dalam
wadah yang memenuhi syarat untuk menjaga ikan tetap hidup, seperti kantong
plastik, bak, tong, tangki, atau wadah lainnya. Permasalahan yang dihadapi
dalam pengangkutan ikan hidup adalah
ikan menjadi stres. Ikan yang stress lebih mudah mati. Untuk mengurangi
stress maka harus diusahakan agar selama pengangkutan ikan seminimal mungkin
bergerak. Caranya adalah dengan menurunkan suhu air ataupun memberikan obat
bius pada ikan. obat bius dapat diterapkan pada wadah terbuka atau tertutup.
Obat bius yang digunakan, misalnya phenoxy-ethanol dengan dosis 0,15 mg/liiter
air media atau miinyak cengkeh dosis 10-20 ppm. Ikan dengan bobot 200-300 g
dapat diangkut dengan kepadatan 30 ekor// 10 liter air selama 6 jam perjalanan.
Penurunan suhu juga dapat dilakukan
untuk membius ikan, suhu air media 18
sudah dapat meredam aktivitas gerak ikan.
penurunan suhu air harus dilakukan
secara berangsur-angsur agar ikan dapat menyesuaikan diri secara biologis. Bahan
penurun suhu yang biasa digunakan adalah es dan nitrogen cair. Penggunaan obat
bius dalam pengangkutan ikan harus hati-hati agar tidak menibulkan dampak
negatif bagi ikan, lingkungan, dan manusia.
2. Penanganan
Ikan segar
Ikan hasil panen yang telah mati harus
dijaga agar tetap segar hingga sampai di tangan konsumen. Penurunan kualitas ikan
yang mati sangat cepat. Kerusakan daging ikan disebabkan oleh : 1). Adanya
enzim dalam tubuh ikan yang menyebabkan daging ikan membusuk (otolisis). 2).
Adanya bakteri pembusuk dari luar tubuh ikan yang masuk ke dalam jaringan tubuh
ikan dan menghancurkannya, dan (3). Adanya proses kimia di dalam jaringan tubuh
yang mulai membusuk karena proses otolisis. Proses pembusukan ikan akan semakin
cepat bila suhu semakin tinggi. Proses pembusukan ikan dapat dihambat bila suhu didinginkan sampai 0
atau lebih rendah lagi. Perlakuan untuk
mempertahankan kesegaran ikan dapat diterapkan prinsip rantai dingin. Artinya,
setelah panen dan mati, ikan harus diberi es. Jumlah es yang digunakan
tergantung waktu pengawetan yang diinginkan. Perlakuan untuk mempertahankan
kesegaran ikan adalah sebagi berikut :
a. Pemanenan
ikan harus dilakukan secara hati-hati agar ikan tidak terluka. Ikan yang
terluka mudah terserang bakteri sehingga
otolisis terjadi.
b. Ikan
dimasukkan dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6 -7
. Pada suhu tersebut ikan yang masih
hidup akan cepat pingsan dan mati tanpa meronta. Jumlah es yang digunakan
adalah 1/6 volume air.
c. Sebelum
dikemas, ikan harus dicuci hingga bersih.
d. Wadah
pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat yang hanya
memerlukan waktu 2-4 jam dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun
pisang atau plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dari seng
atau fiberglass. Kapasitas kotak
maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm. ukuran ini adalah ukuran
standar yang dapat menghindari resiko kerusakan ikan.
e. Es
yang digunakan harus es potongan kecil-kecil (es curah). Perbandingan jumlah es dan ikan sebaiknya 1:1 es
diletakkan secara berlapis-lapis. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi,
begitu seterusnya. Antara ikan dengan dinding boks diberi es. Demikian juga
antara ikan dengan penutup boks. Untuk pengangkutan dengan angkutan darat
biasanya digunakan boks yang tidak berinsulasi. Hal ini mengakibatkaan es cepat
mencair ketika udara panas. Oleh karena iitu bila perjalanannya lebih dari 6
jam perlu ditambahkan es di perjalanan. Ikan yang disimpan di dalam boks
berinsulasi dan diberi es sesuai prosedur diatas akan tahan sampai 7 hari.
BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas penyusun dapat menarik kesimpulan diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Ikan lele
merupakan ikan yang mampu untuk hidup di daerah yang kritis atau daerah yang
tidak memiliki pengairan yang memadai.
2. Pemberian
pakan yang teratur akan mempercepat laju petumbuhan, dan meminimalisir
timbulnya penyakit pada organisme yang
dibudidayakan.
3. Dengan
melakukan pengotrolan dan menerapkan prosedur pemeliharaan yang baik, akan
mencegah munculnya hama di lokasi budidaya.
4. Dengan
melakukan penanganan hasil panen yang baik, akan menjaga kesegaran dan mutu
dari ikan hasil panen, dan meningkatkan nilai jualnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ghufran,
M. 2010. Panduan Lengkap Memelihara Ikan
Air Tawar di Kolam Terpal. Yogjakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar